Home peristiwa Bagian Gunung Sudah Hilang Setengahnya, Air Berwarna Oranye Terlihat di Sekitar Gunung...

Bagian Gunung Sudah Hilang Setengahnya, Air Berwarna Oranye Terlihat di Sekitar Gunung Anak Krakatau

179

Beritanext.com – Bagian Gunung Sudah Hilang Setengahnya, Air Berwarna Oranye Terlihat di Sekitar Gunung Anak Krakatau

Kondisi Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan paska berkali-kali mengalami erupsi.

Dikutip dari Kompas.com, tubuh Gunung Anak Krakatau pun hilang dari setengahnya.

Kini tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini 110 meter dari permukaan air laut.

Sedangkan tinggi sebelumnya adalah 338 meter.

Data ini disampaikan sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo.

Ia menyatakan, berkurangnya ketinggian Gunung Anak Krakatau disebabkan proses pembentukan tubuh gunung api yang disertai erupsi.

Hal ini pun dibenarkan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG).

Selain berkurangnyanya ketinggian, Gunung Anak Krakatau juga diperkirakan kehilangan volume 150 sampai 180 juta meter kubik dan tinggal menyisakan 40 sampai 70 juta meter kubik.

“Berdasarkan analisis visual pada Jumat (28/12/2018) pukul 14.18 WIB, sudah dikonfirmasi Gunung Anak Krakatau yang tinggi semula 338 meter sekarang tinggal 110 meter,” tulis PVMBG dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (30/12/2018).


ilustrasi Gunung Anak Krakatau meletus (net)

Hal ini membuat posisi puncak GAK lebih rendah dibanding Pulau Sertung yang ada di Selat Sunda.

Sebagai catatan, Pulau Sertung berada di ketinggian 182 meter sementara Pulau Panjang ada di ketinggian 132 meter di atas permukaan laut.

“Berkurangnya volume tubuh GAK diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api disertai laju erupsi yang tinggi pada 24 sampai 27 Desember 2018,” papar PVMBG.

Menurut pengamatan PVMBG, saat ini GAK mengeluarkan letusan impulsif.

Artinya, sesaat setelah GAK meletus tidak nampak asap keluar dari kawah.

Pengamatan sebelumnya pada Kamis (27/12/2018) sekitar pukul 23.00 terjadi letusan dengan onset tajam dan tampak letusan Surtseyan di sekitar permukaan air laut.

Letusan Surtseyan terjadi karena magma yang keluar dari kawah GAK bersentuhan dengan air laut dan strombolian (semburan lava pijar dari magma yang dangkal).

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho memposting kondisi terkini Gunung Anak Krakatau.

Dalam postingan tersebut, terdapat video yang diambil oleh seorang jurnalis asing bernama James Reynolds.

Dalam video terlihat kondisi air di sekitar Gunung Anak Krakatau berwarna oranye kecokelatan.

Air oranye kecokelatan tersebut tampak terpisah dengan air laut.

Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan kalau air berwarna oranye kecokelatan tersebut adalah hidrosida besi (FeOH3) yang mengandung zat besi tinggi yang keluar dari kawah dan larut ke dalam air laut.

“Kondisi Gunung Anak Krakatau pada 11/1/2019 yang didokumentasikan. @EarthUncutTV. Warna orange kecoklatan adalah hidrosida besi (FeOH3) yang mengandung zat besi tinggi yang keluar dari kawah dan larut ke dalam air laut. Tubuh Gunung Anak Krakatau telah banyak berubah.” jelas Sutopo Purwo Nugroho.

di akun Twitter James Reynolds, @EarthUncut TV terlihat beberapa rekaman video dan foto yang memperlihatkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini.

terlihat Gunung Anak Krakatau hilang di bagian puncaknya dan muncul kawah lebar di tengahnya.

Lalu air berwarna oranye kecokelatan terlihat berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dan tak bercampur dengan air laut.


Foto Citra Satelit

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN) baru saja merilis citra satelit Gunung Anak Krakatau.

Citra satelit tersebut menunjukkan perubahan morfologi gunung tersebut mulai dari Agustus 2018 hingga Januari 2019.

Dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Jumat (11/01/2019), LAPAN menjelaskan bahwa gembar tersebut didapatkan dari pengamatan citra satelit TerraSAR-X.

LAPAN membandingkan citra satelit dari tiga waktu, yaitu 30 Agustus 2018, 29 Desember 2018, dan 9 Januari 2019.

Ketiga citra satelit itu diambil pukul 05.47 WIB.


“(Dari ketiga citra satelit tersebut) dapat diketahui bahwa ada perubahan morfologi yang terjadi di G. Anak Krakatau dengan cukup berat,” tulis keterangan pers yang diterima dari Rokhis, Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN.

“Terlihat pada citra tanggal 29 Desember 2018, bagian tubuh G. Anak Krakatau bagian barat-barat daya telah hancur, diduga mengalami longsor dan masuk ke laut estimasi dengan luasan area yang berkurang sekitar 49 Ha,” imbuhnya.


Meski telah mengalami longsor, tapi area tersebut dengan cepat “memulihkan diri”.

Hal ini terlihat pada citra satelit pada 9 Januari 2019.

“Akumulasi erupsi setelahnya mengeluarkan material vulkanik yang terkumpyl di sekitar kawah sehingga bagian barat-barat daya Gunung Anak Krakatau kembali muncul ke atas permukaan air seperti yang terlihat pada citra tanggal 9 Januari 2019.

sumber : .(yudhi Maulana /TribunnewsBogor.com) dipublikasikan Minggu, 13 Januari 2019 07:13