Home Unik Upacara di Pura Petilan Pengerobongan Kesiman, Puluhan Orang Histeris Tusuk Diri dengan...

Upacara di Pura Petilan Pengerobongan Kesiman, Puluhan Orang Histeris Tusuk Diri dengan Keris

105

BERITANEXT.COM – DENPASAR – Waktu menunjukkan pukul 16.00 Wita, Minggu (13/1/2019). Ribuan orang telah berkumpul di areal Pura Petilan Pengerebongan Kesiman, Denpasar, tempat dilaksanakan upacara pengerebongan.

Upacara ini dilaksanakan setiap 210 hari atau tepatnya seminggu setelah Umanis Kuningan atau Redite Pon Medangsia.

Menurut Sekretaris Bendesa Desa Adat Kesiman, Nyoman Gede Widiarsa, rangkaian upacara dimulai sejak Sugihan Jawa yang dilanjutkan pada saat Umanis Galungan.

Pada saat Umanis Galungan dilaksanakan piodalan yang juga disebut pengebekan.

“Selanjutnya saat Paing Kuningan dilaksanakan yang namanya pemapadan, dan puncaknya adalah hari ini yaitu saat pengerebongan ini,” kata Widiarsa.

Upacara ini, menurutnya, telah dilaksanakan secara turun temurun sejak dahulu yang diwariskan oleh para leluhur mereka.

“Mengingat desa kita yang luas, ada 31 banjar, sehingga ini tetap dilaksanakan. Ida betara yang lunga (datang) ke sini juga bukan dari Desa Kesiman saja tapi ada dari luar seperti ada dari Pemogan, Bekul, Singgi,” imbuhnya.

Dilihat dari berdirinya pura ini, diperkirakan telah dilaksanakan upacara pengerebongan sejak tahun 1937.

Rangkaiannya yaitu ida betara dari masing-masing banjar rauh ke Pura Petilan sebelum acara dimulai.

Pengerebongan dilaksanakan dengan berputar mengelilingi wantilan yang berada di madya mandala sebanyak tiga kali, yang diikuti dengan prosesi ngurek.

Setelah itu baru dilaksanakan ngider buana, yaitu membawa saput poleng berkeliling, yang dibarengi juga dengan membawa senjata-senjata ida betara.

Pukul 16.35 Wita prosesi pun dimulai.

Ketika acara pengerebongan dimulai, puluhan orang berteriak, histeris, menangis. Lelaki perempuan kerauhan (kesurupan).

Gamelan terdengar bertalu-talu, dan ketika ketukan gamelan semakin cepat, teriakan histeris semakin keras terdengar: aaaahhhhhhh!

Para pengabih yang berjumlah dua orang atau lebih memegang punggung mereka yang kerauhan.

Puluhan tapakan ida betara yang terdiri atas barong dan rangda ikut dalam prosesi ini.

Mengitari wantilan di madya mandala sebanyak tiga kali dengan arah berlawanan jarum jam. Mereka yang kerauhan juga ikut berkeliling.

Di samping mereka, seorang pengayah membawa keris dan pengayah lain membawa sarung keris.

Ketika putaran sampai di depan pintu masuk utama mandala, mereka yang kerauhan, terutama yang lelaki, akan berteriak lalu meminta keris.

Setelah keris diserahkan, mereka akan menusuk bagian leher mereka sekuat-kuatnya.

Ada juga yang sambil melompat dan ada pula yang menusuk dahi mereka dengan keris, dimana hal tersebut disebut dengan ngurek.

“Inggih usan asapunika manten (ya cukup segitu saja),” kata pemangku menghentikan orang yang kerauhan, dan pengabih akan mengambil kerisnya.

Tampak bekas tusukan keris pada leher dan dahi mereka. Gambelan tetap bertalu-talu mengiringi prosesi ini pada bagian belakang.

“Bagaimanapun, rangkaian acara ini tetap dilaksanakan. Jika misalnya hujan, tapakan tidak keliling soalnya hujan agar tidak basah, itu kebijakan pemangku, tetapi acara ini tetap terlaksana,” kata pemangku.

Tujuan dilaksanakannya prosesi ini adalah untuk memohon kerahayuan jagat sekaligus memohon kemakmuran bagi masyarakat.

Ia juga mengatakan jika semua pengempon hadir, maka akan ada puluhan rangda dan barong, tapi jarang semuanya datang.

“Kalau tidak sekarang nanti lagi enam bulannya ikut. Tapi semua yang ada di Desa Adat Kesiman pasti datang,” imbuhnya.

Widiarsa menambahkan, acara ini biasanya usai pukul 18.00 hingga pukul 19.00 Wita.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Upacara di Pura Petilan Pengerobongan Kesiman, Puluhan Orang Histeris Tusuk Diri dengan

Sumber : tribun/Dewi Agustina